oleh

Kisah Tragis Jenazah Bayi Pengamen di Bogor yang Dibawa Pulang Naik Angkot

Bogor-b-oneindonesia—Kisah pedih memilukan hati kembali terjadi di negara ini.  Pasangan suami istri yang sehari-hari berprofesi sebagai pengamen diberlakukan tidak manusiawi akibat mereka adalah orang yang miskin.

Pasangan pengamen ini bernama Antoni (34 tahun) dan Peni Indriani (28 tahun) yang beralamat di Jalan Cilebut Kaum RT 01 RW 05, Desa Cilebut Timur, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat.  Bayi Peni Indriani yang sudah berumur 9 bulan usia kandungan akhirnya meninggal dunia setelah tak kunjung mendapatkan pertolongan karena pasangan yang sehari-hari berprofesi sebagai pengamen ini tidak memiliki uang untuk membayar biaya persalinan.

Adapun bidan yang menangani persalinan ini adalah Bidan Sunarti dengan alamat Perum RSCM, Desa Cilebut Barat, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Ditemui Redaksi B-Oneindonesia.co.id, di Bogor Minggu (15/12/2019) pasangan pengamen ini menceritakan pengalaman pilu sekitar 2 minggu sebelumnya karena kehilangan anaknya yang kedua yang masih berusia 9 bulan kandungan.  Sementara anak pertamanya sudah berusia 2,5 tahun.

“Kejadiannya pada Jumat 6 Desember 2019, kami datang ke Bidan Sunarti di RSCM.  Istri saya sudah mules-mules dan akan melahirkan bayinya.  Saya bawa ke sana sekitar pukul 9 pagi. Meskipun sudah mules-mules tapi tidak segera ditangani,” kata Antoni.

Ia mengatakan pihak bidan menanyakan apakah ia dan istrinya membawa uang untuk proses persalinan.  “Saya tidak punya uang tapi saya berjanji akan mencarikan pinjaman,” kata Antoni.

Sementara pihak bidan memberikan penawaran jika persalinan ingin dilakukan di rumah sakit maka harus menyediakan Rp 3 juta.  Rumah sakit ibu dan anak terdekat adalah Rumah Sakit Pasutri Bogor.

Jika ditangani oleh bidan maka harus menyediakan uang Rp 1,2 juta.  Karena tak kunjung menyediakan uang yang dikehendaki oleh bidan maka persalinan Peni Indriani tidak kunjung ditangani.  Istri Antoni ini dibiarkan di tempat tidur tanpa ada bantuan dari pihak bidan.

Setelah hampir 4 jam menunggu akhirnya persalinan baru ditangani.  Namun bayi sudah tidak bisa tertolong dan pada saat dilahirkan bayi meninggal dunia.

“Padahal bayi masih bergerak pada saat saya membawa ke Bidan Sunarti hari itu,” kata Peni mengenang secara sedih karena kehilangan bayi yang merupakan putra keduanya.

Peni menjelaskan bahwa ia memeriksakan kehamilannya dalam dua bulan terakhir secara teratur di Puskesmas Cilebut dan Bidan Sunarti.  “Kami sudah mengurus BPJS Kesehatan kira-kira dua minggu sebelum proses kelahiran supaya nanti biayanya ringan.  Tapi BPJS Kesehatan tak kunjung beres, bahkan sampai hari persalinan kartu belum jadi.  Itulah kenapa pihak Bidan Sunarti tak mau sigap menangani persalinan karena kami tak punya BPJS,” tegasnya.

 

Jenazah Dibawa Angkot

Ia menyatakan pada saat persalinan ditangani oleh Bidan Lia yang merupakan bidan yunior.  “Setelah menunggu berjam-jam baru oleh ditangani Bidan Lia.  Saat bayi ditarik keluar oleh bidan, bayi sudah meninggal dunia, pada hal pada saat dibawa ke bidan kondisi bayi masih baik-baik saja dan bergerak di dalam kandungan istri saya,” kata Anton.

Setelah bayi meninggal, bidan kemudian meminta biaya Rp 1,2 juta untuk biaya persalinan.  “Saya minta dikurangi Rp 300 ribu.  Jadi biaya Rp 900 ribu.  Saya kemudian cari pinjaman Rp 500 ribu dan saya bayarkan.  Kekurangannya Rp 400 ribu masih belum saya bayarkan,” ujarnya.

Pihak bidan kemudian menyerahkan bayi yang baru saja meninggal dunia tersebut untuk dibawa pulang dan dikuburkan.  Karena tidak punya kendaraan pribadi, maka jenazah bayi itu dibawa pulang naik angkot jurusan Bojonggedhe-Bogor.  Pihak Bidan tidak mau menyediakan ambulan ataupun meminjamkan mobil pribadi untuk mengantarkan bayi.

“Saya membawa pulang bayi yang meninggal dunia dengan naik angkot Jurusan Bojonggedhe-Bogor karena saya tidak punya uang untuk menyewa ambulan.  Pihak Bidan juga tidak mau meminjamkan mobilnya untuk membawa bayi saya,” ujarnya.

Anton kemudian membawa bayi pulang.  Namun Anton tidak ikut menguburkan bayi ke tempat pemakaman. Ia kembali ke Bidan Sunarti setelah dengan susah payah mendapatkan uang pinjaman Rp 500 ribu untuk memenuhi kewajibannya.

Selanjutnya pada pukul 19.00 WIB hari itu juga, pihak bidan meminta Peni Indriani pulang ke rumahnya.  Pihak Bidan Sunarti juga meminta agar pasangan Antoni dan Peni Indriani ikhlas merima kenyataan bahwa bayinya tidak bisa tertolong dan pasrah menerima kenyataan ini.  Pasangan ini juga diminta untuk tidak melaporkan kejadian ini kepada siapapun.

Share this:

Komentar

News Feed