oleh

BORIS JOHNSON RESMI MENGGAMBIL ALIH PM INGGIRS DARI TANGAN THERESA MAY

Jakarta-be-oneindonesia-Perdana Menteri Inggris Boris Johnson resmi mengambil alih PM Inggris dari tangan Theresa May dan menjanjikan segera menyelesaikan proses negosiasi negaranya untuk keluar dari Uni Eropa atau Brexit.

Pidato pertama Boris Johnson di kantor PM Inggris disampakan tak lama setelah bertemu dengan Ratu Elizabeth di Istana Buckingham, dimana ia menyampaiakan :”Kami akan memenuhi janji parlemen kepada rakyat dan keluar dari UE pada 31 Oktober, tanpa jika atau tapi,” ujar Johnson sebagaimana dikutip AFP. Johnson telah siap melakukan negosiasi lebih lanjut dengan Uni Eropa mengenai kemungkinan kesepakatan kerja sama usai Inggris keluar dari UE.

PM Inggris Boris Johnson diprediksi akan melalui banyak rintangan dikarenakan pemerintah Inggris sampai hari ini masih terpecah. Johnson memberikan pernyataan kembali dan menegaskan bahwa ia tak menutup kemungkinan untuk membawa Inggris keluar dari UE  walau tanpa kesepakatan apa pun.

Carrie Symonds sebagai pendamping Boris Johnson, mantan Wali Kota London juga menyampaikan, “Tentu penting untuk mempersiapkan kemungkinan Brussels menolak negosiasi lebih lanjut dan kita dipaksa keluar tanpa kesepakatan.” Sementara Presiden Dewan Eropa, Donald Tusk, sendiri langsung mengucapkan selamat kepada Johnson dan mengatakan bahwa ia siap membicarakan kesepakatan lebih lanjut. “Saya menanti pertemuan dengan Anda untuk mendiskusikan secara rinci kerja sama kita,” ujar Tusk.

Sepeninggal May dari kursi PM Inggris para pendukung May masih terjadi ketidaktasepakatan atas keputusan Johnson yang membuka peluang akan kemungkinan Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apapun. Para pendukung May masih memiliki anggapan bahwa Inggris seharusnya masih mempertahankan sejumlah kerja sama guna jalannya roda perekonomian. Dari perbedaan pendapat tersebut, beberapa menteri  mengundurkan diri ketika Johnson diprediksi kuat bakal menjadi pengganti May. Sementara itu, gagasan untuk keluar dari UE tanpa kesepakatan juga terus digaungkan oleh pihak oposisi May, termasuk ketua Partai Brexit, Nigel Farage.

“Saya harap Boris Johnson dapat menjadi PM yang baik dengan janji ‘lakukan atau mati’-nya untuk melakukan Brexit pada 31 Oktober,” kata ketua Partai Brexit, Nigel Farage. Selanjutnya Farage menyampaiakan juga, “Lakukan atau mati’ itu bukan hanya untuk Brexit, tapi juga masa depan Partai Konservatif. Apakah ia punya keberanian untuk melayani negara?” (nrl/sumber berita CNN)

Share this:

Komentar

News Feed