oleh

Ridwan Hisjam Ajak Paradigma Lama Golkar Menuju Reformasi Jilid Dua

-Politik-391 views

Jakarta, b-oneindonesia- Judul buku Paradigma Golkar dengan Platform Revolusi Industri 4.0 dan Konten Pemilih Milenial yang ditulis politisi senior Golkar Ridwan Hisjam menekankan bahwa Golkar harus mengubah paradigma barunya tidak cukup lagi hanya bermodal paradigma reformasi tahun 1999.

Ketika itu paradigma baru Golkar yang disahkan dalam Rakernas Golkar 2000 lebih menekankan pada otonomi parpol. Yang pertama, tidak lagi berpangku pada tiga jalur ABG (ABRI-Birokrasi-Kader Golkar). Kedua, mengadakan konvensi kader untuk maju menjadi capres. Ketiga, kompetisi bebas liberal untuk maju menjadi caleg, calon gubernur cagub), atau calon bupati (cabup).

Menurut Ridwan, paradigma ketiga ini lebih banyak memunculkan konflik dan perpecahan antarkader. juga bertentangan dengan asas musyawarah mufakat berbasis hikmat berdasarkan nilai-nilai dan moralitas dalam sila keempat. Karena dalam praktiknya pasca reformasi Golkar selalu menjadi partai pemenang kedua kecuali pada Pemilu 2004.

“Maka itu setelah reformasi Golkar perlu reformasi jilid 2. Golkar tidak bisa lagi menggunakan paradigma reformasi, karena ruang dan waktunya sudah berbeda,” ujar Ridwan, di Hotel Indonesia, Kempinski, Minggu (10/11/2019).

Ridwan Hisyam mengatakan, untuk bisa menjadi partai pemenang pemilu maka perlu pembaruan struktur atau kelembagaan partai, sekaligus budaya politik segenap kader Partai Golkar.

Bentuk konten politik Partai Golkar harus menyasar kalangan milenial. Sebab pada Pemilu 2019, jumlah pemilih milenial mencapai 50%. “Untuk itu, Golkar perlu aware. Setidaknya ada tiga hal yang dijadikan acuan.

Yang pertama, jumlah pemilih generasi milenial maupun generasi Z akan bertambah secara signifikan. Jumlah mereka akan lebih dari 50% dari total pemilih Indonesia. Itu artinya suara mereka sangat signifikan memengaruhi kemenangan entitas politik peserta pemilu,” ujarnya.

“Kedua, generasi milenial dan generasi Z, akibat media sosial, akan memiliki intensitas yang kuat terhadap politik. Mereka semakin sensitif terhadap politik dan Ketiga, preferensi politik generasi ini sangat dipengaruhi oleh arus informasi yang berkembang di media internet. Pilihan politik mereka adalah buah kreasi kesadaran yang terbangun dari simpulan informasi di internet,” tutup Ridwan Hisyam yang jadi legislator di Senayan semenjak Orde Baru .

Share this:

Komentar

News Feed