oleh

Bamsoet Apresiasi Festival Beta Pancasila Universitas Pattimura

Jakarta, b-Oneindonesia Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendukung kiprah Universitas Pattimura, Maluku menyelenggarakan event Festival Beta Pancasila, yang sudah berlangsung pada 1 Juni 2022 hingga 28 Oktober 2022. Event tersebut tidak hanya berlangsung di kalangan civitas akademika Universitas Pattimura, melainkan juga melibatkan berbagai kalangan seperti Pemuda Pemuda Pancasila Maluku.

“Event Festival Beta Pancasila dikemas dalam berbagai kegiatan, antara lain Pemilihan Putera-Puteri Pancasila, Orasi Kebangsaan Beta Pancasila, Bercerita Pancasila Sakti, Seminar Internasional Pancasila dalam Dimensi Global. Puncaknya diselenggarakan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI sekaligus Penganugerahan Bintang Pancasila Sakti oleh saya selaku Ketua MPR RI kepada warga masyarakat Maluku yang dinilai telah berperan menjaga, melestarikan, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Bamsoet usai menerima Jajaran Rektorat Universitas Pattimura, di Ruang Kerja Ketua MPR RI, di Jakarta, Selasa (20/9/22).

Turut hadir antara lain, Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, dan Ketua Panitia Penyelenggara Festival Beta Pancasila Dr. Henry M. Sopacua.

Bamsoet menjelaskan, komitmen Universitas Pattimura dalam melestarikan nilai-nilai Pancasila juga terlihat dari keberadaan Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di tingkat universitas. Serta keberadaan Laboratorium Pancasila dan HAM di tingkat fakultas.

“Festival Beta Pancasila mengamanatkan adanya keteguhan sikap dan tanggungjawab keluarga besar kampus untuk membela tanah air dalam wadah NKRI. Sekaligus mengisyaratkan Pancasila sebagai cerminan dan jatidiri dalam kegiatan keseharian kampus,” jelas Bamsoet.

Lanjut Bamsoet menerangkan, tantangan dalam penyelenggaraan kehidupan kebangsaan telah mengalami pergeseran paradigma, dimana ancaman terhadap keamanan nasional tidak lagi bersifat kasat mata dan konvensional, melainkan bersifat kompleks, multidimensional, serta berdimensi ideologis. Ancaman yang bersifat ideologis ini terasa nyata jika kita merujuk pada beberapa publikasi hasil survey mengenai Pancasila.

“Hasil survei SMRC yang dirilis pada Juni 2022, mengisyaratkan bahwa dari tingkat yang paling elementer sekalipun, pengetahuan dasar masyarakat tentang Pancasila masih belum optimal, hanya memiliki skor 64,6 pada skala 0 sampai 100. Hasil survei SMRC juga mengungkap bahwa komitmen publik terhadap nilai-nilai Pancasila juga masuk dalam kategori sedang dengan skor 73,2. Demikian juga terkait bagaimana nilai-nilai Pancasila itu direalisasikan dalam kehidupan berbangsa, yang hanya mencapai skor 73,7, yang juga diklasifikasikan dalam kategori sedang,” terang Bamsoet.

Bamsoet menambahkan, survei yang dilakukan pada akhir Mei 2020 oleh Komunitas Pancasila Muda terhadap responden milenial dari 34 provinsi, mencatat hanya 61 persen responden yang merasa yakin dan setuju bahwa nilai-nilai Pancasila sangat penting dan relevan dengan kehidupan mereka. Sementara 19,5 persen bersikap netral, dan 19,5 persen lainnya menganggap Pancasila hanya sekedar istilah yang tidak dipahami maknanya.

“Jauh sebelumnya, survei LSI Tahun 2018 juga mencatat bahwa dalam kurun waktu 13 tahun masyarakat yang pro terhadap Pancasila telah mengalami penurunan sekitar 10 persen, dari 85,2 persen pada tahun 2005 menjadi 75,3 persen pada tahun 2018. Bahkan kita dibuat miris oleh publikasi survei CSIS yang mencatat sekitar 10 persen generasi milenial setuju mengganti Pancasila dengan ideologi yang lain,” ujar Bamsoet.

Share this:

Komentar