oleh

Resmi, Jenderal Andika Angkat Eks Tim Mawar Jadi Pangdam Jaya

Jakarta, b-oneindonesia – Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa mengangkat Staf Khusus Panglima TNI Mayjen TNI Untung Budiharto sebagai Pangdam Jaya. Mayjen Untung menggantikan Mayjen TNI Mulyo Aji yang diangkat sebagai Sekretaris Kementerian Koordinator Biang Politik, Hukum, dan Keamanan.

Hal itu tertuang dalam salinan Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/5/1/2022 tentang Pemberhentian Dari Dan Pengangkatan Dalam Jabatan Di Lingkungan TNI yang diterima b-oneindonesia.co.id, Rabu (5/1/2022) malam.

Terhitung mulai tanggal ditetapkan,” demikian bunyi surat yang ditetapkan Jenderal Andika di Jakarta pada Senin (4/1/2022) tersebut. Salinan keputusan itu disampaikan kepada Menko Polhukam Mahfud MD, para kepala staf angkatan hingga Dadenma Mabes TNI.

Untung merupakan alumni Akademi Militer angkatan 1988 dari kecabangan infanteri. Ia merupakan salah satu dari anggota Tim Mawar yang dibentuk Menteri Pertahanan Letnan Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto di era 1990-an.

Sejumlah amanah pernah diembannya antara lain Dandim 1504/Ambon hingga Kasdam I/Bukit Barisan.

Pada tahun 2020, Untung menjabat sebagai Direktur Operasi dan Latihan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan dilanjutkan dengan menjadi Sestama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme. Per 25 Oktober 2021, Ia menjadi Staf Khusus Panglima TNI.

Kepala Penerangan Puspomad Letkol Indra Wirawan membenarkan penunjukan Mayjen Untung Budiharto menjadi Pangdam Jaya.
“Ya betul Mas, dalam waktu dekat ini akan dilaksanakan acara serah terima jabatan Pangdam Jaya dari Mayjen TNI Mulyo Mulyo Aji, M.A kepada Mayjen TNI Untung Budiharto,” katanya dikonfirmasi, Kamis (6/1/2022).

Lalu siapa Untung Budiharto? Berikut ini profil singkatnya: Mayjen Untung Budiharto termasuk senior di lingkungan TNI.

Dia merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) 1988 dari kecabangan Infanteri (Kopassus). Sejak 24 Oktober 2021, Untung menjadi Staf Khusus Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa.

Sebelumnya Untung menjabat sebagai Sekretaris Utama (Sestama) Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menggantikan Marsda TNI Adang Supriyadi.
Dikutip dari situs resmi BNPT, ia dilantik pada 13 Juli 2020 berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 107/TPA Tahun 2020 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Dari dan Dalam Jabatan Pimpinan Tinggi Madya di Lingkungan BNPT.

Berikut riwayat jabatan Mayjen TNI Untung Budiharto:

1. Danyonif 733/Masariku (2004-2005)

2. Dandim 1504/Ambon (2005-2006)

3. Kasrem 151/Binaiya (2007-2009)

4. Asren Kopassus (2009-2010)

5. Dosen Madya Seskoad (2010-2012)

6. Pamen Ahli Kopassus Golongan IV Bidang     Taktik Parako

7. Danrindam IV/Diponegoro (2012-2013)

8. Danrem 045/Garuda Jaya (2013-2014)

9. Paban IV Bindok Staf Operasi Angkatan Darat (2014)

10. Irdam XVIII/Kasuari (2016-2017)

11. Waasops Kasad (2017-2019)

12. Kasdam I/Bukit Barisan (2019-2020)

13. Direktur Operasi dan Latihan Badan     Nasional Pencarian dan Pertolongan (2020)

14. Sekretaris Utama BNPT (2020-2021)

15. Staf Khusus Panglima TNI (2021-)

Jejak Tim Mawar dan Eks Anggotanya.

Karier sejumlah eks anggota Tim Mawar masih berjaya hingga era pemerintahan Joko Widodo atau Jokowi. Teranyar, Mayor Jenderal TNI Untung Budiharto diangkat sebagai Panglima Kodam Jaya.

Tim Mawar erat dikaitkan dengan kasus penculikan aktivis menjelang era reformasi. Fayan Siahaan, ayah dari Ucok Munandar, salah satu aktivis reformasi yang diculik pada Mei 1997, terkejut dengan penunjukkan Mayjen Untung menjadi Pangdam Jaya.

Sudah dua kali, ia diundang Jokowi ke Istana Negara untuk membahas kasus yang menimpa anaknya. Jokowi berjanji akan menuntaskan kasus penculikan tersebut. Namun janji tinggal janji. Fayan mengatakan Jokowi seperti mengingkari perkataannya sendiri dengan pengangkatan Untung.

“Saya tidak tahu harus bilang apalagi, selain mengharapkan mukjizat Tuhan agar membuka hati nurani sebagai presiden yang telah kami berikan mandat,”kata Fayan dalam konferensi pers di kanal Youtube Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, Jumat, 7 Januari 2022.

Melansir dari laporan Majalah Tempo pada Desember 1998, Tim Mawar dibentuk oleh Mayor Inf. Bambang Kristiono pada Juli 1997. Adapun anggotanya, selain Bambang sebagai komandan, terdiri atas 11 orang, yaitu Kapten Inf. F.S. Mustajab, Kapten Inf. Nugroho Sulistiobudi, Kapten Inf. Julius Stefanus, Kapten Inf. Untung Budiarto, Kapten Inf. Dadang Hindrayuda, Kapten Inf. Joko Budi Utomo, Kapten Inf. Fauka Nurfarid, Serka Sunaryo, Serka Sigit Sugianto, dan *Sertu Sukadi.

Target tim ini adalah memburu dan menangkapi aktivis yang mereka anggap radikal.

Sebanyak 22 aktivis diculik. Sembilan orang kembali dalam keadaan hidup, sedangkan 13 lainnya hilang hingga saat ini!

Sembilan orang yang kembali dalam keadaan hidup adalah Andi Arief, Nezar Patria, Pius Listrilanang, Desmond J. Mahesa, Haryanto Taslam, Rahardjo Waluyo Jati, Mugiyanto, Faisol Riza, dan Aan Rusdianto.

Sedangkan 13 yang hilang adalah Wiji Thukul, Petrus Bima Anugrah, Suyat, Yani Afri, Herman Hendrawan, Dedi Hamdun, Sony, Noval Alkatiri, Ismail, Ucok Siahaan alias Ucok Munandar, Yadin Muhidin, Hendra Hambali, dan Abdun Nasser.

Tim ini dituduh bersalah dalam menculik dan menghilangkan sejumlah aktivis pada masa itu. Kasus penculikan tersebut telah diadili oleh Mahkamah Militer.

Setelah kasus ini disidang, Mahkamah Militer Tinggi II-08 Jakarta menghukum Bambang 22 bulan penjara dan memecatnya sebagai anggota TNI. Pengadilan juga memvonis Multhazar sebagai Wakil Komandan Tim Mawar, Nugroho, Julius Stefanus, dan Untung Budi, masing-masing 20 bulan penjara, dan juga memecat mereka sebagai anggota TNI.

Adapun Chairawan Kadarsyah Nusyirwan, Komandan Grup 4 Sandi Yudha Komando Pasukan Khusus (Kopassus), dicopot dari jabatannya. Dia dianggap ikut bertanggung jawab karena anggota Tim Mawar berasal dari Grup 4 Kopassus.

Bagaimana kelanjutan nasib mereka setelah itu?

Tahun 2016, empat eks anggota Tim Mawar yang pernah divonis bersalah, tiga bahkan dipecat dari TNI dan diangkat menjadi jenderal setelah menyandang pangkat Brigadir Jenderal (Brigjen).

Empat orang itu adalah Kolonel Inf Fauzambi Syahrul Multazhar (Wakil Komandan Tim Mawar) yang dulu bernama Fausani Syahrial Multhazar), Kolonel Inf Drs Nugroho Sulistyo Budi, Kolonel Inf Yulius Selvanus dan Kolonel Inf Dadang Hendrayudha.

Keempatnya dipromosikan menjadi jenderal setelah menerima promosi ke jabatan yang diemban oleh seorang Brigjen.

Keempatnya tak jadi diberhentikan setelah mengajukan permohonan banding atas vonis Mahkamah Militer Tinggi II Jakarta tersebut.

Karier Untung pun tetap moncer setelah tak jadi dipecat dari TNI. Kini pria berpangkat Mayor Jenderal itu diangkat menjadi Pangdam Jaya. Sementara Brigjen TNI Dadang Hendrayudha dan Brigjen TNI Yulius Selvanus menjadi pejabat eselon 1 di lingkungan Kementerian Pertahanan yang dipimpin oleh Prabowo Subianto. Masing-masing mendapat posisi sebagai Direktur Jenderal Potensi Pertahanan dan Kepala Badan Instalasi Strategis Pertahanan.

Sementara itu, Bambang Kristiono setelah dipecat, setia kepada bekas Danjen Kopassus Prabowo Subianto. Dia diberi pekerjaan sebagai Direktur Utama PT Tribuana Antar Nusa, anak perusahan dari Nusantara Energy Group milik Prabowo Subianto  yang bergerak di bidang transportasi.

Bambang juga bekerja sebagai operator politik Prabowo. Pada 2009, Bambang juga aktif dalam tim kampanye Megawati-Prabowo. Kini, dia menjabat sebagai Ketua Badan Pengawas dan Disiplin (BPD) Partai Gerindra.

Adapun Fauka Noor Farid, juga terjun ke dunia politik di partai bentukan Prabowo Subianto. Namanya tertera sebagai Juru Kampanye Nasional Partai Gerindra untuk Pemilu 2014. Ia juga aktif di kepengurusan DPP Partai Gerindra.

Sementara itu, empat bekas anggota lainnya, Kapten Inf. Joko Budi Utomo, Serka Sunaryo, Serka Sigit Sugianto, dan Sertu Sukadi, tak terdengar kabarnya.

Karier Chairawan juga melesat setelah pemecatan dulu itu. Ia banyak berkiprah di dunia intelijen. Sempat menjadi Kepala Pos BIN Wilayah Aceh, terakhir dia menjabat staf ahli Panglima Tentara Nasional Indonesia dan pensiun dengan pangkat mayor jenderal.

Panglima TNI Jelaskan Penunjukan Pangdam Jaya 

Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa menjelaskan alasan dirinya menunjuk Mayjen TNI Untung Budiharto menjadi Pangdam Jaya. Penunjukan itu menuai sorotan, karena Untung adalah bagian dari tim Mawar terkait operasi penculikan aktivis.

Andika menilai penunjukkan itu bukanlah suatu masalah, karena yang bersangkutan sudah mendapatkan keputusan dari pengadilan dan sudah dijalani.

“ Pangdam Jaya sebetulnya kalau dari segi hukumkan sudah menjalani, apa yang kemudian waktu itu diputuskan oleh pengadilan,” ujar Andika di Mako Rindam Jaya III Siliwangi, Jalan Manado, Kota Bandung, Rabu (12/1/2022).

“Sudah diputuskan dan berkekuatan hukum tetap dan sudah dijalani,” tegas Panglima.
Menurut Andika, pihaknya menilai secara hukum sudah tidak ada lagi persoalan terkait Mayjen TNI Untung Budiharto.

“Jadi memang secara hukum tidak ada lagi, kemudian harus dilakukan oleh mereka yang pada saat itu mendapatkan hukuman ya,” ujarnya.

Mayjen Untung menjadi Pangdam Jaya menggantikan Mayjen Mulyo Aji mendapat promosi menduduki job bintang tiga sebagai Seskemenko Polhukam.

Mutasi Pangdam Jaya ini tertuang dalam Keputusan Panglima Tentara Nasional Indonesia Nomor Kep/5/I/2022 tentang Pemberhentian dari dan Pengangkatan dalam Jabatan di Lingkungan Tentara Nasional Indonesia

Share this:

Komentar

News Feed