Agus Lasmono Sosok Pemilik Indika Energy (INDY) & Target Pencapaian 2025

Pendiri dan pemilik Indika Energy, Agus Lasmono.

Jakarta, b-Oneindonesia – PT Indika Energy Tbk (INDY) berkomitmen sebagai perusahaan investasi dengan portofolio bisnis yang terdiversifikasi.

Sepanjang 2022, perseroan mencetak laba bersih US$ 452,7 juta dan laba inti US$ 521,2 juta. Melalui anak usaha Kideco Jaya Agung (Kideco), Indika mengalokasikan 28% dari total produksi untuk kebutuhan dalam negeri atau melebihi ketentuan 25% domestic market obligation (DMO).

Di tahun 2022, Indika Energy membukukan pendapatan sebesar US$ 4,33 miliar atau naik 41,2% dibandingkan US$ 3,06 miliar pada tahun 2021. Kenaikan pendapatan perseroan terutama disebabkan oleh meningkatnya harga jual batu bara dimana indeks batu bara Indonesia (ICI) 4 di tahun 2022 menjadi sebesar US$ 86,1 per ton atau naik 30,7% dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski di tengah meningkatnya permintaan dan harga jual batu bara global pada tahun lalu, perseroan kian memprioritaskan komitmen terhadap environmental, social, and governance (ESG) dan memperkuat diversifikasi usaha di sektor non-batu bara.

Komisaris Utama Indika Energy Agus Lasmono menegaskan dalam laporan tahunan 2022 perseroan bahwa inisiatif ESG yang terus pihaknya kembangkan mulai menunjukkan kemajuan signifikan di tahun 2022.

“Beberapa indikator penting kemajuan kinerja ESG juga telah melampaui target. Selain itu, diversifikasi kami dalam bisnis hijau, seperti kendaraan listrik dan tenaga surya, serta mineral, menunjukkan perkembangan yang menggembirakan,” ungkap Agus dalam annual report Indika Energy, Jumat (14/4/2023).

Indika Energy pun sudah menetapkan target untuk tahun 2025 dan bahkan jauh hingga tahun 2050. “Kami optimis dapat mencapai target 50% pendapatan non-batu bara pada tahun 2025 dan net-zero emissions pada tahun 2050,” ujar Agus Lasmono.

Pemilik Indika Agus Lasmono berusia 51 tahun, warga negara Indonesia. Dia menjabat sebagai komisaris utama Indika Energy sejak Januari 2017, kemudian diangkat kembali untuk masa jabatan periode keempat berdasarkan Akta Nomor 8 tertanggal 22 April 2022.

Agus Lasmono adalah pendiri dan pemilik Indika Energy. Sebelumnya, dia menjabat sebagai wakil komisaris utama Indika Energy dari tahun 2007 sampai 2017. Agus Lasmono merupakan anak dari mendiang Sudwikatmono yang adalah sepupu almarhum Presiden Soeharto.

Agus Lasmono menjabat pula sebagai komisaris utama PT Indika Inti Corpindo (sejak 2004), PT Indika Inti Holdiko (sejak 2004) dan PT Ilectra Motor Group (sejak Juli 2022), serta sebagai Direktur Utama PT Indika Multi Media (sejak 2002).

Sebelumnya, ia juga pernah menjabat sebagai komisaris utama PT Net Mediatama Televisi (2012-2021), komisaris PT Kideco Jaya Agung (2004-2017), serta komisaris independen PT Surya Citra Media Tbk. (2005-2013) dan PT Surya Citra Televisi (2005-2013).

Lebih rinci, Agus memaparkan, dalam investasi bisnis hijau, Indika membuat kemajuan besar dalam kendaraan listrik (EV). Ditandai dengan diluncurkannya ALVA One, kendaraan roda 2 listrik melalui anak perusahaan yang baru didirikan, PT Ilectra Motor Group (IMG).

“Melihat besarnya peluang dan prospek kendaraan listrik (EV), kami mengembangkan ekosistem EV di Indonesia lebih lanjut dengan mendirikan perusahaan joint venture, PT Foxconn Indika Motor (FIM) untuk mengembangkan bus listrik,” jelasnya.

Indika juga telah menunjukkan kemajuan dalam tenaga surya dengan EMITS menandatangani proyek untuk mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya hibrida sebagai salah satu instalasi penyimpanan baterai terbesar di Indonesia dan Asia Tenggara tahun ini.

Dalam agroforestri, Indika Nature telah memulai fase pertama penanaman di 700 ha dengan target 7.500 ha di 2024. “Di tahun 2023, kami memperkirakan dapat melakukan penjualan pertama dan memperluas bisnis ke pasar produk hilir agroforestri,” ungkap Agus Lasmono.

Di bidang mineral, Indika telah mendorong pengembangan Proyek Emas Awakmas dan memasuki penambangan bauksit dengan mengakuisisi 100% kepemilikan di PT Mekko Metal Mining (Mekko). Mekko memiliki cadangan 5,7 juta ton washed bauksit dan kapasitas produksi 1 juta ton per tahun dan diharapkan beroperasi penuh pada 2023.

“Untuk semakin mengurangi eksposur kami dalam bisnis terkait batu bara dan mencapai target pendapatan non-batu bara sebesar 50% pada tahun 2025, kami menyelesaikan divestasi PT Petrosea Tbk pada tahun 2022,” terang Agus.

“Dewan komisaris memandang bahwa strategi diversifikasi bisnis yang dibuat oleh direksi selaras dengan pertumbuhan jangka panjang negara dan upaya pemerintah dalam energi transisi untuk mencapai net-zero emission di tahun 2060,” lanjutnya.

“Dengan kemajuan yang telah kami buat selama beberapa tahun terakhir menuju target ESG kami, kami optimis dengan prospek bisnis kami di masa depan,” tutupnya.

Share this:

Komentar