oleh

LaNyalla Apresiasi Inovasi Peluang Usaha Oleh-oleh Khas Bandung

-Senayan-1.501 views

Ketua DPD RI LaNyalla Dalam Agenda Kerja ke Bandung, Apresiasi Inovasi Peluang Usaha Oleh-oleh Khas Bandung, Selasa (12/01/21)

BANDUNG, B-ONEINDONESIA – Kurang pas rasanya jika kita berlibur ke Bandung, Jawa Barat tanpa pulang membawa oleh-oleh khas Kota Kembang. Saat ini, ada banyak sekali oleh-oleh khas Bandung yang bisa dijadikan buah tangan saat usai menghabiskan waktu di Bandung. Salah satu yang menarik adalah olahan makanan khas yang berhasil diolah menjadi buah tangan. Tentu saja inovasi peluang usaha oleh-oleh khas Bandung ini mendapat apresiasi Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti.

LaNyalla menilai Bandung merupakan daerah wisata kuliner yang sangat potensial dengan ragam oleh-oleh. “Pengembangan produk oleh-oleh dapat meningkatkan income dan pendapatan daerah,” kata LaNyalla setiba di Kota Bandung dalam agenda kunjungan kerja Ketua DPD RI, Selasa (12/1/2021) petang.

Apa yang dilakukan insan kreatif di Bandung menurut LaNyalla dapat ditiru oleh para pelaku usaha ekonomi kreatif di daerah lain. “Inovasinya bisa ditiru oleh daerah wisata lainnya, tentu menyesuaikan dengan potensi yang dimiliki masing-masing. Yang terpenting juga adalah mengangkat kearifan lokal di daerahnya untuk menopang pariwisata,” tutur LaNyalla.

LaNyalla menilai ada banyak produk kreatif yang bisa dikreasi menjadi oleh-oleh bagi wisatawan. “Bisa produk makanan, pakaian, kerajinan tangan, buah-buahan khas atau yang lainnya. Tentu harus didukung pariwisata, dinas ekonomi kreatif atau dinas yang terkait lainnya,” ucap LaNyalla.

Sebagaimana diketahui, pemerintah telah menetapkan 15 subsektor dalam produk ekonomi kreatif. Dari jumlah itu, tiga di antaranya menyumbang cukup besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negara. Ketiga sub sektor ekonomi kreatif tersebut antara lain kuliner, fashion dan kerajinan.

Kuliner menyumbang sebesar Rp209 triliun atau 32,5 persen, fashion sebesar Rp182 triliun atau 28,3 persen dan kerajinan sebesar Rp93 triliun atau 14,4 persen.

Share this:

Komentar

News Feed