oleh

HANTU KOMUNIS

M.Wahid Supriyadi

Mantan Dubes RI untuk UAE dan Federasi Rusia merangkap Belarus

Rusia adalah negeara pertama yang menerjemahkan buku Das Kapital karya Kar Marx. Rusia pula negara pertama yang ingin menerapkan teori komunisme yang menginginkan adanya suatu masyarakat tanpa kelas, dan semua property dikuasai oleh publik (negara) dan setiap orang dibayar berdasar  kemampuan dan kebutuhannya. Tidak ada lagi strata social, semua sama. Kedengarannya sangat indah.

Dalam sejarah Rusia, ada dua kelompok yang berbeda dalam upaya merealisasi masyarakat komunis. Kelompok pertama adalah Mensheviks (minoritas) yang dipimpin oleh Julius Martov dan yang kedua Bolsheviks (mayoritas) yang dipimpin oleh Vladimir Lenin. Perpecahan ini muncul pada Kongres Kedua Russian Social Democratic Labour Party (RSDLP) tahun 1903 yang diselenggarakan di Brussels dan London. Lenin menginginkan keanggautaan partai yang profesional dan militant, sementara Martov beranggapan bahwa keanggautaan partai bisa meluas kepada para simpatisan.

Martin Sixsmith, mantan koresponden BBC di Moskow, dalam bukunya berjudul “Russia: 1000 Year Chronicle of the Wild East”  menulis, Mensheviks percaya bahwa masyarakat ideal yang tanpa kelas akan tercipta melalui revolusi industri yang akan menciptakan masyarakat kelas menengah dan makmur, sementara Lenin lebih percaya pada jalan pintas melalui jalur revolusi dengan negara yang kuat untuk mengatur kehidupan masyarakat komunis.

Kita tahu bahwa akhirnya Bolsheviks yang menang setelah melalui berbagai drama berdarah dan perang saudara. Revolusi Bolsheviks atau juga dikenal dengan Revolusi Oktober 1917 yang dilanjutkan dengan perang saudara sampai 1923 memulai perjalanan Rusia sebagai negara Komunis dan mengakhiri Kekaisaran Rusia yang telah berkuasa hampir 200 tahun.

Lenin kemudian mulai membangun negara Uni Soviet (USSR) tahun 1922 yang dimulai dari negara-negara Euroasia utara seperti Rusia, Belarus, Ukraina dan Federasi Transkaukasia (Georgia, Azerbaijan dan Armenia) dengan one-party policy (Partai Komunis). Perjalanan tidak mulus akibat perang saudara, kemiskinan dimana-mana.

Untuk menggerakkan perekononmian, Lenin mulai dengan kebijakan New Economic Policy (NEP) tahun 1921-1928 yang lebih market-oriented, walaupun hal ini sebenarnya bertentangan dengan teori komunisme. Para petani dapat menjual kelebihan hasil panen yang disetorkan ke pemerintah untuk keperluan pribadi. Pemerintah juga memberikan kepada swasta secara terbatas untuk mengelola pertanian, retail dan industri skala kecil.

NEP ini berhasil meningkatkan perekonomian Uni Soviet, hasil pertanian meningkat dan industri berkembang pesat. Namun Lenin percaya bahwa ini sifatnya sementara. NEP di lain pihak juga menciptakan kelompok borjuis/kelas menengah yang sangat dibenci oleh pemerintah. Joseph Stalin kemudian mengakhiri NEP tahun 1928 karena dianggap berbahaya dan tidak sesuai dengan ideologi komunis.

Stalin memperkenalkan kembali sistem pertanian kolektif dan memperkenalkan Program Lima Tahun dengan target tingkat industri Uni Soviet menyamai negara-negara kapitalis dalam lima tahun mendatang. Stalin mulai menangkap dan membunuh para kulaks, para petani kaya yang memiliki tanah pertanian, akibat kebijakan NEP, yang dianggap sebagai musuh negara. Stalin menerapkan tangan besi dengan membunuh semua yang dianggap sebagai musuh revolusi. Stalin menerapkan sistem pertanian kolektif dan industri secara paksa, membangun kultus individu dengan memerkuat polisi rahasia (NKVD) dan menerapkan politik teror. Sampai sekarang tidak ada angka yang pasti korban keganasan Stalin. Banyak ahli sejarah sepakat korbannya antara 2-10 juta baik yang lagsung di tangan Stalin atau secara tidak langsung.

Harus diakui, di bawah Stalin poisi Uni Soviet sangat sangat diperhitungkan oleh AS. Di bawah Stalin-lah senjata nuklir dapat dikembangkan, industri tumbuh pada tingkat yang mendekati AS. Terlepas dari kekejamannya, masyarakat Rusia cenderung apologetic terhadap Stalin, mengingat pada masanya (Mei 1945) Uni Soviet berhasil menghancurkan tentara Hitler pada Perang Dunia II, walaupun separuh dari korban PD II, atau sekitar 27 juta, berasal dari Rusia. Sampai sekarang setiap tanggal 9 Mei dirayakan besar-besaran di Rusia sebagai Hari Kemenangan.

Rusia mulai membuka diri pada jaman Nikita Khrushchev (1958-1964) yang mengambil alih kekuasaan setelah kematian Stalin tahun 1953. Dia memulai program de-stalinisasi karena melihat sistem pergantian kepimimpinan yang brutal dan penuh intrik. Dia tidak ingin menjadi korban berikutnya. Masa keterbukaan diteruskan oleh Mikhail Gorbachev yang menjadi Sekjen Partai Komunis tahun 1985-1991. Pada bulal Maret 1984 dia memperkenalkan istilah perestroika sebagai salah satu sarana untuk mereformasi kehidupan masyarakat dan ekonomi. Dia percaya perestroika akan mengakselerasi tingkat perekonomian Uni Soviet setingkat Amerika Serikat tahun 2000.

Apa yang terjadi kemudian adalah bubarnya Uni Soviet pada tahun 1991 menjadi 15 negara. Muncullah Boris Yetsin yang menjadi Presiden tahun 1991-akhir Desember 1999. Yeltsin-lah tokoh pertama menyatakan keluar dari Partai Komunis. Bahkan dia pernah membubarkan partai yang membesarkannya, walaupun akhirnya keputusan itu dianulir oleh Mahkamah Konstitusi. Rusia mulai menerapkan ekonomi liberal dengan bantuan Amerika Serikat. Kabarnya AS mengirim para ahli ekonominya dan menggelontorkan milyaran dolar AS untuk membantu merubah ekonomi Rusia menjadi ekonomi liberal.

Apa yang terjadi kemudian adalah kekacauan ekonomi dan menciptakan para oligar yang menguasai sebagian perekonomian Rusia, sementara rakyatnya banyak yang miskin bahkan mengantri untuk membeli roti. Kebanyakan oligar adalah orang-orang yang dekat dengan keluarga Yeltsin. Mereka mendapat keuntungan dari program privatisasi yang dimotori oleh orang kepercayaan Yeltsin, Anatoly Chubais. Para oligar ini pula yang berdiri di belakang Yeltsin pada masa-masa sulit Rusia yang hampir saja menjatuhkannya dari pemilu 1996 yang ketika itu kepercayaan masyarakat kepada Yeltsin berada pada titik nadir. Ketika itu approval rating Yeltsin hanya 6%. Namun berkat peran para oligar, dipimpin Boris Berezovsky, yang menguasai media, Yeltsin akhirnya memenangkan pemilu.

Beruntung Yetsin menemukan seorang tokoh muda yang dikenal profesional, dingin dan sangat meghormati atasannya. Dia lah Vladimir Putin, salah satu Deputi Walikota St Peterburg di bawah Anatoly Sobchak. Putin bahkan menolak untuk tetap menduduki jabatan sebagai Deputi Walikota ketika ditawarkan oleh pengganti Sobchak, Yuri Shutov, yang menang dalam pemilu tahun 1996. Yeltsin akhirnya menarik Putin ke Moskow, pertama menjadi Direktur FSB (pengganti KGB) tahun 1996 dan kemudian Perdana Menteri Agustus 1999.

Ketika kesehatannya menurun dan keadaan ekonominya memburuk, pada pidato menjelang tahun baru 2000 Yeltsin mengundurkan diri dan menunjuk Putin sebagai Acting Presiden. Pada Pemilu tiga bulan kemudian dia resmi menjadi Presiden Federasi Rusian dengan menang 53,4%, mengalahkan saingan terdekatnya Gennady Zyuganov dari Partai Komunis yang mendapatkan suara 29,5%. Putin diusung United Party yang dia turut dirikan.

Tahun pertama berkuasa, GDP Rusia naik 72%, gaji naik hampir tiga kali lipat, angka kemiskinan dan pengangguran turun hampir setengahnya. Kondisi ini ditopang dengan oil boom ketika harga minyak naik sekitar lima kali lipat. Popularitas Putin semakin meningkat, pelan-pelan Rusia mulai diperhitungkan di dunia setelah sempat menjadi the sick-man in Europe. Kenyatasan sampai sekarang Putin masih menjadi pemimpin Rusia yang paling popular, walaupun approval rating-nya semakin turun. Levada Center, sebuah lembaga polling yang dianggap paling independen di Rusia, pada surveinya bulan Juli lalu melaporkan populartas Putin mencapai 60%. Walaupun ini dianggap paling rendah selama ini, namun dibandingkan para pemimpin dunia popularitas Putin salah satu yang tertinggi.

Pertanyaannya, apakah Rusia saat ini masih sebagai negara komunis? Banyak orang di Indonesia masih menganggap Rusia sebagai negara komunis. Kenyataanya, Putin menyatakan keluar dari Partai Komunis tahun 1991, dan dia menjadi presiden didukung oleh United Party yang mirip-mirip dengan Golkar di masa Orde Baru. Partai Komunis hanya menduduki 10% kursi di Duma (DPR). Bahkan dalam amandemen konstitusi yang disahkan pada Januari lalu, salah satu klausanya “kepercayaan kepada Tuhan”, sementara komunisme selama ini dianggap tidak percaya pada Tuhan. Perlu diketahui, pada masa Yeltsin, hanya ada sekitar 840 masjid di seluruh Rusia, selama masa Putin, terdapat sekitar 8000, atau meningkat hampir sepuluh kali.

Sejarah menunjukkan bahwa masyarakat Rusia adalah penganut Kristen Orthodox yang kuat sampai jatuhnya kekaisaran Rusia di era Tsar Nicholas II tahun 1917. Bahkan pada masa Prince Vladimir, tahun 988, sebelum memutuskan Kristen Orthodox sebagai agama negara (state religion), dia sudah mempelajari dua agama lain yaitu Yahudi dan Islam. Yahudi tidak dipilih kareana tidak behasil mengembalikan tanah kelahirannya sendiri, sedangkan Islam tidak dipilih karena melarang alkohol.

Banyak yang tidak tahu bahwa Rusia adalah negara dengan penduduk Muslim terbesar di Eropa setelah Turki, sekitar 24 juta atau 14% dari total penduduknya. Jadi terjawab sudah bahwa Rusia saat ini adalah sebuah demokrasi. Rusia menyebutnya sebagai sovereign democracy, demokrasi yang berakar dari kearifan dan kebudayaan lokal dan bukan demokrasi yang dilaksakan oleh Barat. Ini mirip dengan Indonesia. Eksperiman selama 70 tahun sebagai negara komunis dapat dikatakan gagal. Generasi muda sekarang sudah tidak mengenal lagi sistem komunisme. Tidak ada lagi simbol-simbol komunisme di Rusia, kecuali di museum atau tempat yang dianggap sangat bersejarah.

RRT adalah negara kedua yang mempraktekkan komunisme dengan meniru gaya Uni Soviet di jaman Mao Ze Dong, dan dapat dikatakan gagal juga karena hanya menciptakan kemiskinan yang masif ketika itu. Deng Xiaoping yang berkuasa tahun 1978 – 1989, memulainya dengan menerapkan reformasi ekonomi pasar, yang kemudian dijuluki sebagai Arsitek China Modern. Kenyatasan ini bertolak belakang dengan sistem ekonomi komunis yang sangat sentralistik. Memang Partai Komunis masih berkuasa, tetapi saya melihatnya sebagai wahana untuk mencapai tujuan karena partai ini memiliki jaringan sampai ke pelosok-pelosok. Sepertinya RRT tidak ingin mengalami kegagalan seperti yang dilakukan Uni Soviet dengan tetap mempertahankan partai sebagai sarana untuk memuluskan kebijakan ekonominya. Sistem ekonomi kedua negara ini dapat dikatagorikan sebagai the State Capitalism atau Kapilatisme Negara, dimana negara masih menjadi instrumen penting dalam ekonominya.

Lalu apakah masuk akal kalau kita akhir-akhir ini dikhawatirkan dengan adanya isu kebangkitan PKI? PKI tiba-tiba bangkit, atau dibangkitkan, terutama semasa Pemilu dan menjelang akhir bulan September. Rusia dan RRT sebagai dedengkot komunis telah mati dan menjelma menjadi negara setengah kapitalis. Dulu PKI kuat karena ada backing-nya, yaitu RRT. Memang kenyataan, PKI telah tiga kali melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang sah yang memakan banyak korban. Tetapi korban terbanyak akibat rezim komunis adalah Rusia. Tidak ada angka yang pasti, tetapi jaman Stalin saja anyara 2-10 juta orang.

Apakah ideologi komunis akan mati? Tentu saja tidak. Partai Komunis justru ada dan diakui di banyak negara demokrasi seperti di Eropa Barat, Australia dan bahkan Amerika. Tetapi siapa yang percaya? Tidak satu pun di negara-negara tersebut Partai Komunis meraih kursi di parlemen.

 

Yogyakarta, Desember 2020.

Share this:

Komentar

News Feed