Buku Paulo Coelho Pengaruhi Sikap Pantang Menyerah Prabowo Subianto

Jakarta, b-Oneindonesia — Dalam Perbincangan dengan Najwa Shihab dalam podcast Mata Najwa, Sabtu (1/7), Prabowo Subianto ditanya, buku apa yang berpengaruh dan seharusnya dibaca banyak orang?

Najwa tahu betul, bakal capres Partai Gerindra itu hobi baca buku. Itu diakui juga oleh Prabowo. “Ayah saya, kalau saya ulang tahun selalu diberi hadiah buku,” ungkap Prabowo.

Sebagai guru besar, yang juga masuk politik, menurut Prabowo, ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo, hidup sederhana. Tak miskin, tapi juga tidak kaya. Hidup naik turun. Bahkan, pernah di pengasingan.

“Waktu masa kecil saya di London, kalau hari Sabtu dan Minggu saya pergi ke perpustakaan. Perpustakaan adalah tempat berlibur bagi saya, lan gratis,” tuturnya.

Dari buku itu dia banyak mendapatkan pengetahuan. Sebab, “Buku mengajak kita untuk mengetahui banyak hal,” tandasnya.

“Lantas, buku favorit apa yang Anda rekomendasikan untuk dibaca anak-anak muda sekarang?,” tanya Najwa.

Setelah terdiam sejenak, Prabowo menjawab, “Bagi saya, kalau penulis, yang saya banyak belajar dari dia, adalah Cuelho. Paulo Cuelho,” jawabnya.

Prabowo lantas menyebut satu judul buku setebal 154 halaman yang ditulis oleh Cuelho, dan belakangan banyak berpengaruh pada dirinya: Warrior of The Light (Ksatria Cahaya)

Sepertinya, buku inilah yang membuat Prabowo tak pantang menyerah, meski selalu kalah dalam 4 kali keikutsertaannya dalam kontestasi pilpres di Indonesia.

Dalam resensinya, melalui buku Warrior of The Light, Cuelho mengajak kita semua untuk mewujudkan impian, menerima ketidakpastian dalam hidup, dan bangkit untuk menyongsong takdir pribadi kita yang unik.

Menurut Cuelho, ada sosok Ksatria Cahaya di dalam diri setiap orang, dan dengan caranya yang tak tertandingi, membantu kita untuk menemukannya.

“Jalan Ksatria Cahaya tak selalu mudah, tetapi dia menerima kegagalan-kegagalannya dan berjuang tak kenal lelah untuk memenuhi Legenda Pribadi-nya,” tuturnya.

Inilah mengapa, tak ada kata menyerah di kamus Prabowo, meski gagal berulang-kali.

“Selama rakyat negeri ini meminta, sebagai Ksatria saya menyerahkan jiwa dan raga saya untuk negeri ini, termasuk maju sebagai calon pemimpin,” tegasnya.

Komentar